Perjalanan Tim Lintas Timur-Barat Kompas di Pulau Flores atau Tanjung Bunga tidak akan lengkap jika tidak menyempatkan diri mampir ke ikon pariwisata pulau tersebut, yaitu Danau Kelimutu. Dengan tiga warnanya yang sering berubah, danau tersebut menyimpan misteri tersendiri.
Sebanyak 15 wisatawan domestik dan asing telah berkumpul di tugu pengamatan Gunung Kelimutu (1.690 meter) menunggu terbitnya Matahari ketika tim Lintas Timur-Barat Kompas tiba di sana. Pagi itu waktu menunjukkan pukul 05.40 Wita. Sinar terang mulai tampak di kejauhan bersamaan dengan munculnya Matahari dari balik kaki langit.
Perlahan-lahan sinar Matahari menerangi Gunung Kelimutu dan danau ajaib tiga warna yang terdapat di punggungnya pun terlihat jelas. Di sisi timur, terdapat dua danau, yang airnya masing- masing berwarna hijau dan coklat tua, dan di sisi barat ada satu danau yang airnya juga berwarna coklat tua. Pemandangan indah tersebut memancing decak kagum wisatawan yang berada di tempat itu. Kelelahan setelah mendaki selama lebih kurang 10-15 menit dari pelataran parkir langsung hilang.
Kelimutu yang merupakan gabungan dari kata keli yang berarti gunung dan mutu yang berarti mendidih itu merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di Pulau Flores, selain Komodo, kampung tradisional Bena, dan taman laut Riung yang indah.
Danau ajaib itu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Dan, mulai mendunia setelah Romo Bouman menerbitkan artikel mengenai Danau Kelimutu.
Danau vulkanik itu dianggap ajaib atau misterius karena warna ketiga danau tersebut berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.
Awalnya Danau Kelimutu dikenal memiliki tiga warna, yakni merah, putih, dan biru.
Sekitar 15 tahun lalu, ketika untuk kedua kalinya mengunjungi Kelimutu, Kompas menyaksikan tiga danau itu dalam tiga warna. Dua danau di timur tugu berwarna merah dan hijau muda, sedangkan satunya berwarna coklat tua. Dan, medio Oktober ini dua dari tiga danau itu berwarna coklat, lainnya hijau.
Danau (tiwu) warna hijau tersebut dahulunya berwarna biru atau orang setempat menyebut tiwu koĆ¢€™o fai nuwa muri (muda- mudi), danau berwarna coklat berubah dari merah atau tiwu ata polo (orang jahat) dan putih atau tiwu ata bupu (orang tua).
Warna air Danau Kelimutu adalah misteri alam. Danau itu hanya ada di Moni, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dan belum pernah ditemukan yang seperti ini di tempat lain di mana pun di dunia.
Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk menyaksikan Danau Kelimutu. Menjelang tengah hari, apalagi sore hari, biasanya danau diselimuti kabut yang menghalangi pandangan. Itu sebabnya para wisatawan biasanya bermalam di Moni, Desa Koanara, di kaki Gunung Kelimutu, dan baru berangkat ke Gunung Kelimutu dini hari.
Kelimutu terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, sekitar 66 kilometer dari Kota Ende dan 83 kilometer dari Kota Maumere.
Dalam kunjungan ke Danau Kelimutu itu tim Kompas memilih melakukan perjalanan sore hari dari Maumere, sekitar pukul 15.00. Jalan relatif mulus menuju perbatasan Ende-Sikka di Paga. Selanjutnya hingga kota Wolowaru jalan berlubang di banyak tempat.
Melihat dua mobil tim penuh dengan stiker bertuliskan Lintas Timur-Barat Kompas, banyak penduduk melambai-lambaikan tangan di sepanjang perjalanan. Penduduk di daerah itu umumnya sangat ramah.
Di sepanjang perjalanan terdapat banyak kampung dan desa tradisional, seperti Mbuli Loo, Wolojita, atau Nggela. Desa-desa ini masih asli memiliki bangunan megalitik dan rumah adat, dengan kerajinan tenun yang serba tradisional.
Setelah melintas selama 2,5 jam, tim akhirnya tiba di perkampungan Moni. Di sini ada banyak homestay yang dikelola penduduk dengan tarif Rp 25.000-Rp 50.000 per malam. Cottage milik pemerintah bertarif Rp 75.000-Rp 85.000.
Kami memilih menginap di cottage Sao Ria Wisata yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Ende karena lebih dekat (sekitar 100 meter) dari jalan cabang menuju puncak Kelimutu. Keesokan harinya, sekitar pukul 05.00, kami bergerak ke puncak.
Jarak dari Moni ke puncak sekitar 12 kilometer. Namun, jarak yang bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor ke tempat parkir adalah 11 kilometer, dan kemudian pengunjung harus berjalan kaki melalui jalan setapak.
Jalan ke pelataran parkir sangat buruk. Badan jalan rusak di banyak tempat, berlubang, lapisan aspal banyak yang terkelupas. Tidak terlihat adanya upaya perbaikan. Jalan sepanjang itu ditempuh dalam tempo 30 menit.
Turun dari kendaraan di pelataran parkir, aroma kopi dari beberapa pedagang menusuk hidung. Mereka memasak dengan menggunakan kayu bakar. Udara pagi itu terasa dingin mengiris. Kicauan burung bersahut-sahutan menyambut pagi.
Hutan pinus tumbuh rimbun di salah satu sisi Pegunungan Kelimutu. Kawasan tersebut menjadi satu-satunya daerah pegunungan di Flores yang paling banyak dan luas ditumbuhi pinus.
Kawasan Kelimutu dikelilingi hutan dengan flora yang jarang ditemukan di wilayah Flores. Selain pinus tampak cemara, kayu merah, dan edelweiss. Di sisi lain, gunung tersebut tandus dengan tanah pasir yang labil sekali.
Masyarakat setempat memercayai bahwa Gunung Kelimutu keramat dan memberikan kesuburan pada alam di sekitarnya. Medio Oktober ini masyarakat melakukan pemotongan ternak sebagai paa loka (sesajen).

No comments:
Post a Comment